Rabu, 07 Juli 2010
Dahulu kala, aku yang sering disebut teman-teman sesosok orang yang kurang bergaul, hubungan lawan jenis tak kukenal sama sekali. Aku yang saat itu masih SMP atau sederajatnya yang dikenal dengan Istilah MTs, tepatnya aku di MTs PKP Manado, lainnya juga aku seorang santri di dalamnya. Apa memang seorang yang menduduki sebagai santri ada perbatasan jauh dengan berhubungan lawan jenis. Aku katakan tidak, toch banyak juga ada diantara teman-teman ku yang sering pacaran, bahkan gaya seorang santri tapi kalau dah diluar layaknya berbanding terbalik. Itulah dunia sekarang, bisa membuat segala yang mustahil menjadi nyata, yang nyata jadi mustahil. Semasa MTs aku sering di kenal oleh guru-guru, terlebih saat kelas satu dan dua, aku aktif dalam kelas, hingga terkadang sebagian teman menganggapku sombong, cari perhatian dan semacamnya. Berlanjutnya sebuah masa transisi datang, di akhir kelas tiga aku mulai berubah, sudah mulai mengenal setidaknya kenalan sama lawan jenis.
Berlanjut hingga di ruang lingkup pembelajaran yang sama MA PKP, aku mulai tergoda dengan wanita, beberapa saat aku sering punya perasaan sama wanita, lewat beberapa peristiwa seperti pelatihan atau semacam seminar berhari-hari. Itulah aku, sering dipikirkan kalau aku seorang yang playboy pengalaman, banyak pengalaman dari berbagai peristiwa hingga membawa dampak mempunyai sebuah rasa. Sudah banyak korban rasa ku. Tapi kesemuanya aku simpan dalam-dalam, hingga rasa itupun yang dahulunya membara hingga meredup. Berpikir-pikir mendalam, ternyata aku ini seorang yang pengecut cinta, munafiq cinta. Tapi itulah aku, dengan karakter seorang yang pemalu, hingga aku berbuat demikian. Bahkan sering pernah dijuluki aku sebagai seorang yang cuek abiz di kelasku oleh anak-anak pondok putri. Tapi apa yang ku perbuat, biarkan saja, toch itu urusan mereka.
Dengan berbagai pengalaman rasa yang berujung sebuah pengharapan tak dinanti-nanti hingga pelita cinta pun mulai mati. Dengan dihadakan dengan suasana kampus, yang sebelumnya pembelajaran seperti ini berbeda banget waktu semasa aku MTs dan MA. Dahulunya aku belajarnya hanya laki-laki semua, tapi ini pembelajarannya seperti Umum, campur, dalam kelas ada wanita dan laki-laki, suasana yang sangat berbeda, tapi ke berbedaan itu ku berusaha menjadi semangatku dalam meraih prestasi. Tapi tidak dipungkiri juga aku malu didalam ruangan, mau bertanya .... eh ke bawa karakter, hanya sesekali aku bisa bertanya, itupun seperti orang yang ngak tahu bicara aja, tersendat-sendat. Dan mungkinkah aku kan selama seperti ini.
Seiring waktu berjalan dengan berbagai peristiwa, hal rasa yang dulu pernah ku alami datang kembali. Sesosok seirang wanita yang menggetarkan hatiku. Lewat sebuah peristiwa yang semulanya tanggapi biasa-biasa aja, tapi esok-esoknya berubah benih-benih rasa kalau aku lagi dilanda dilema rasa.
Tapi karakterku pun masih tetap seperti dahulu, masih belum berubah. Hingga dengan berlarut-larutnya waktu, rasa itu ku biarkan, dengan berbagai kejadian .. sering aku seperti orang yang tak sadar. Sesekali saat ketemu sekilas dengan arah berlawanan, sebuah pandangan yang tak bermaksud terjadi, aku juga yang keseringan berharap kalau ia bisa merasakan seperti yang kurasakan, tapi hingga detik ini ia pun tak sperti yang kuharapkan. Hingga pengharapan hati pun terjadi, sebuah masa klasik dahulu terbayang-bayang hingga aku tak tahu harus berbuat apa atas permintaan hatiku.
Hingga dengan cepat pergantian detik ke menit ke jam, berganti hari, minggu bulan, hingga perpindahan tahun. Yang pertama kali aku menginjakkan kakiku di jawa saat pertengan tahun 2009. Hingga berjalan 2010 ini, terjadi sebuah kejadian yang diluar kemampuanku. Lewat sebuah pelatihan kampus, tepatnya pelatihan journalistik, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fakultas ku, dengan hormat ku sebut Islamika. Pasca kegiatan tersebut, sebuah rasa menghampiri ku, tapi saat itu aku masih menganggapnya mungkin rasa ini akan lewat. Toch saat ini aku masih dilanda sama pengaharapan cinta yang sebelumnya. Berlanjut dengan perang sms yang tak kusadari, hingga sebuah harapan cinta datang kepadaku. Awal mulanya aku masih agak takut dengan perbuatan ku. Masalahnya sebuah rasa yang ku alami pada seseorang yang lebih tua dariku. Bagiku hal tersebut tak menjadi sebuah poblem. Hal lain juga menjadi sebuah pertimbangan ku, ia lebih dewasa dariku, ia banyak bergaul dengan teman-teman lewat jalur organisasi atau lainnya. Dan mungkin saja ia sudah punya harapan cinta entah siapa, pastinya tak ku ketahui saat itu. Lewat beberapa hari pun harapan cinta tak bisa ku tahan, hingga berlarut-larut kalau aku menyadarinya ini sebuah harapan cinta yang membutuhkan sebuah kejelasan. Hingga aku mulai sadar dan pengaharapan cinta ku pertama saat di kampus hilang, berganti dengan sebuah harapan cinta yang suci, aku sadar kalau ia lagi menunggu kejujuran ku. Tapi dengan karakter sedemikian ini, aku masih tak banyak berbuat apa-apa. Banyak kebohongan tindakan yang kulakukan demi menyimpan rasa ini. Secercak salah satu sms yang membuat ku tersadar :
“bila dirimu sekarang lagi menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju Ridho-Nya, bersabarlah dengan ketaqwaan ... Demi Allah dia tidak datang dengan kecantikan, kepintaran, juga kekayaan. Tapi Allah lah yang menganugerahkan. Dan jangalah tergesa-gesa untuk mengekspresikan cinta kepada dia sebelum Allah mengizinkannya. Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu. Siapakah yang lebih mengetahui melainkan Allah. Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap-deraplah hati rapat-rapat, Allah akan menjawabnya dengan lebih indah di saat yang tepat”.
Tersadar aku berkreasi membuat saat waktu yang tepat untuk mengatakannya padanya. Harinya tak ku yakini kapan, tapi saat hari genting mungkin itu pilihan dari yang Maha Kuasa. Saat itu aku terjaga dengan puasaku, begitu juga ia. Awal rencana aku akan buka pusa bersama. dan disaat buka puasa yang berlanjut sholat magrib di masjid, saat itu dengan hati yang suci aku mengungkapkannya. Mudah-mudahan ini kefitrahan cintaku. Tapi hal itu tak seperti yang kurencanakan. Ketemuan di perpusatakaan bersama, berlanjut sholat dzuhur menuju mesjid dengan langkah bareng. Saat setelah sholat pun aku kepikiran ini sepertinya waktunya. Aku harus katakan yang semestinya. Yang berbarengan aku dan ia sedang puasa, berteduh di teras mesjid tepatnya 28 juni 2010, aku pun yang mengawalinya dengan kegugupan hingga banyak ketidakjelasan dari kata-kataku. Dengan berbelit-belit cerita hingga aku pun mengungkapkan yang sejujurnya. Aku pun jujur dan ia pun jujur. Sebuah permintaan hati yang selama ini di tunggu-tunggu oleh keduanya pun terjadi. Dengan kondisi jiwa dan bathin terjaga dan tempat pun, aku tersadar ini merupakan pilihanku, ia adalah yang terbaik ku. Aku sangat mencintainya, dan ia pun sangat mencintai ku. Hari itu menjadi hari terspesial bagi ku. Hal yang pertama kali aku bisa ungkapkan perasaanku, dan aku pun terasa tak ragu-ragu dengan cinta ini. Entah kedepannya kita mau seperti apa, biar nanti waktu yang menentukan, terpenting aku dan ia menguatkan terjaganya komitmen kita, berusaha sekuat saling menjaga hubungan ini.
Aku dan ia adalah pilihan hati dari berbagai pengaharapan hati yang selama ini di harapkan.
Aku mencintainya Mu
( taufiq n” sity )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar