Entah akan dikata seperti apa, sebuah pilihan cinta menangis kan sebuah pengharapan hati tak mau di sapa. Perasaan hati ini tak mau di sapa olehnya, sebuah permainan cinta yang melingkar dikepala ku dengan kondisi yang tak bersahabat dengan keadaan. Sungguh tengah amat malam saat ini, perasaan sakit hati yang ku rasakan sejak beberapa waktu yang tak begitu lama meninggalkan. Seakan aku lagi di uji rasa cinta ku padanya, aku iri melihat teman-teman para akrab banget dengan dirinya dengan kepentingan organisasi, sedang aku entah harus berbuat apa. Tak ada yang bisa di banggakan diriku saat berkecimpung sebuah organisasi. Beda hal nya kalau urusannya hanya berdua, ia dan aku sangat mesra banget, seakan kami itu udah mengikat tali penghalal satu sama lain. Padahal selain aku bisa akrab dalam hubungan dilaur, setidaknya kita bisa kerja sama, membangun komunikasi yang enak, saling ngobrol kepentingan organisasi, tidak mencampur hubungan yang mesra.
Tapi inilah aku, melihatnya begitu makrab dengan teman-teman seperjuangan organisasi, saling bertukar pikiran menemukan suatu solusi, atau lain sebagainya. Aku hanya melihat dari tempat duduk yang terpisah dari tempat duduk yang lain. Aku tahu ia berbuat demikian tak ada maksud untuk menyakiti hatiku. Berdua dengan saling menatap dalam ruangan cukup ramai, dan aku ada di dalam keramaian itu. Aku tak bisa memberikan kontribusi yang nyata padanya. Hanya sebuah pandangan yang saling menatap, entah masing-masing akan saling menafsirkan seperti apa.
Inikah ujian dalam cinta, bukankah semuanya sudah jelas, dengan melalui komitmen yang dahulunya suah dibangun kalau kita harus saling jujur dan memahami posisi dari keduanya. Tapi inikah diriku, bukankah sebuah jalur cinta bermahkotakan kesetiaan kan berujung pada cinta yang hakiki. Aku menatap mesranya malam, seakan tidak peduli dengan diriku. Aku iri bulan yang selalu setia menerangi dinginnya malam, kapankah kesetiaan mandampingi ku. Bukanlah ia sudah setia dengan diriku ... atau kesetiaan sepeti apa yang ku kehendaki. Cukuplah beberapa hari yang menyesakkan hati yang tak beralasan. Aku tahu dirinya memang seperti ini, aku tidak bermaksud untuk menyakitinya. Cukuplah kesakitan ini hanya dirikulah yang mengetahui. Tak kuasa bila aku seakan menambah penderitaannya. Apalagi dengan posisi saat ini, serasa aku mau menjelaskan semuanya kalau aku mau minta maaf. Aku tak tahu seperti apa ia menafsirkan diamku. Sungguh semata hanya ingin menyatakan padanya kalau aku tidaklah apa-apa. Tidakkah cukup lisan selalu berucap diri ini tidak apa-apa.
Sang Maha pemilik cinta, berikan penjelasan atas kegelisahan hati ini. Sekalipun hal itu menyakitkn bagiku. Tak ada kata pisah yang ku inginkan, melainkan hanya sebuah ilustrasi cinta yang akan ku samarkan dalam penghiburan hati ini. Cukupkanlah pengujian cinta ini. Atas nama cinta ku katakan aku tersikas dengan pengujian ini. Pengujian atas nama cinta, aku berserah diri pada yang maha kuasa
Salam teruntuknya dalam hati yang tersiksa .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar