Jumat, 19 November 2010

Purwosari yang mengesankan …..

Entah seperti apa yang aku harus gambarkan .... saat pagi hari bangun kesiangan, shubuh pun aku harus mulai jam 5 hampir mendekati pukul 6 pagi. Pun dengan segera seperti biasanya aku langsung kekamar mandi, wudhu dan sejenisnya, sholat pun ku tunaikan.
Tak sadar demikian, nyatanya hari ini adalah hari minggu, kebiasaannya ada pengajian ibu-ibu di masjid al-munajat, dengan segera pun menyegerakan diri menuju masjid, tapi tak lupa aku sms pada sayangku, met pagi.
Waktu yang berjalan dengan tak disadari, awalnya sepulang dari pengajian aku mau menata rapi rambut ku, tapi dengan tak sengaja salah seorang dari teman sekamar meminta bantuan untuk mengedit ruang kerja ms.word, tanpa mikir panjang pun aku langsung membantunya dan dengan sekilas pun aku ditawarin jadi bagian penting didalamnya, tepatnya aku jadi sekpan kegiatan muballigh hijrah. Dengan tak kuat ku menolaknya, pun aku menerima bagian tersebut. Yang seterusnya aku melanjutkan ketikan ruang kerja ms.word, saat sebelumnya niat nya membantu, kini menjadi tugas penting sebagai seorang sekretaris, yakni membuat proposal dan surat dengan ketersediaan waktu yang sedikit.
Teringat juga bentar sore nanti aku kan mengantar ibu dari temanku ke stasiun purwosari, karena dah mau balik ke kampung asalnya, aceh. Pun menanti sore hari, hal yang ku lakukan tak begitu berpengaruh banyak, saat siang hari selepas dzuhur akupur tak sengaja tertidur dengan berpakaian pakaian sholat hingga tersadar waktu ashar pun tiba. Ku coba membuka inbox hp ku, pastinya ada kotak masuk dan ku bisa menebaknya pasti menanyakan ke sanggup nya aku untuk menangtar ibunya. Pun selepas sholat, dengan melihat kondisi sekitar, ku meminjam motor temanku yang saat itu ia masih tidur.
Tepat saat kami berangkat dari kost menuju stasiun selepas sholat magrib, menuju ke stasiun purwosari mengantar ibu sama bapak (insya Allah calon menjadi mertua ku). Dengan gaya semangat, berpakaian almamater hitam, jins biru agak sobek dikit, semangatnya aku membantu bapak ibu hingga kereta pun pergi dari tatapan aku dan dua orang anaknya (siti n muth). Sempat juga ada rasa khawatir saat mengangkat barang ibu sama bapak aku terjebak diantara sesaknya penumpang yang tak lama lagi kereta pun akan segera berangkat. Yach walaupun juga, aku pun bisa keluar dari kereta tersebut.
Entah sebuah perasaan yang tak enak dari tadi ku biarkan berlalu, sesampai di kost, aku pun tak langsung pulang. Merencanakan pergi ke relasi belanja keperluan ku. Sity (pacarku) pun berbarengan ke relasi membeli keperluan masing-masing. Mutar sana-sini di lantai satu relasi, siti nya pun tampak diam, aku tak bisa menafsirkan seperti apa rasanya sekarang. Entah ia sedih dengan pulangnya ibu bapaknya atau ada sesuatu hal lain yang mengundah hatinya.
Tak lama nya semua terungkap, saat perasaan ku masih di stasiun ada sesuatu yang ganjal juga salah satu rasa gundah nya siti saat berbelanja. Aku yang saat itu mau membayar barang belanja ku, ternyata dompet ku tidak ada. Aku pun kaget, gimana iihhh, manalagi barang belanjaan totalnya sekitar 11 ribuan, aku pun dengan tak sengaja katakan kalau dompetku tidak ada di tas... pun belanjaan ku di bayar siti. Keluar dari relasi aku bingung, dan siti pun tampak lebih bingung, ia merasa ngak enak padaku. Ia merasa bersalah besar atas kehilangan dompetku, sedang aku yang kehilangan tak merasa setakut seperti takutnya siti. Rasa hatiku berbeda dengan sebelumnya saat aku kehilangan barang. Pun dengan segera ku meminta siti menemani ku kembali ke purwosari lagi, entah mungkin dompetku terjatuh disana.
Pun dengan segera kami berdua menuju purwosari harapan, maksudnya mudah-mudahan dompetku disana. Sepanjang perjalan yang berawal dari mulai aku katakan kalau dompet ngak ada, kegundahan hati siti tak bisa ku bendung ...  beberapa kali ku katakan santailah, aku minta maaf dah melibatkan mu pada hilang nya dompetku, aku tak sengaja membuat mu khawatir siti ..... ungkap ku pada nya.
Duh, fiq, justru aku yang seharusnya minta maaf, aku dah merepotkanmu, aku minta maaf, maaf ...... udah lah sit, tenanglah ... walau dengan cara gimana aku harus menenangkan pikiran siti. Aku tahu seperti apa perasaannya di aku, tapi aku tak menghendaki perasaan seperti itu. Toch kalau memang ngak di ketemukan, aku memuhasabahkan diriku atas kejadian seperti ini... disisi lain juga aku merenung, kenapa hal ini bisa terjadi, perenunganku juga ke khawatiran siti pada ku membuat malam semakin mesra aku dengan siti. Sesampai disana dengan kondisi yang sangat sepi yang terlihat beberapa orang saja, ku menghampiri salah seorang tukang karci menanyakan maksud kedatangan ku, padanya tidak kutemukan jawaban yang kunanti. Berlanjut ke dalam stasiun sambil menoleh kebawah, kanan kiri hingga ke ruang informasi stasiun pun aku menanyakan maksudku, pun tak menuai hasil yang positif.
Saat itu pun aku keluar stasiun melihat dari jauh kondisi siti yang sangat menghwatirkan diriku. Ia merasa bersalah banget pada diriku, sedang perasaan seperti itu tak ku kehendaki darinya. Berbalasan kata maaf dari kami berdua juga perbincangan kalau hal ini cukup aku dengan siti yang tahu aja, juga rancangan besok hari pengurusan atas dompetku yang hilang, yakni pergi ke kantor polisi setempat yang tak jauh dari kampus guna mengurusi surat kehilangan. Aku pun juga merasa bersalah sama siti, yang seharusnya ia besoknya akan ikut baret merah merasa kahawatir aja kalau bakalan ngak fokus dikarenakan dompetku. Berbalasan kata maaf tak henti dari mulut dua lawan jenis dengan berpayungan  malam hari yang semakin mesra.
Entah perasaan siti seperti apa, juga perasaan ku seperti apa, aku berusaha mencoba meyakinkan siti, kalau ini bukan karena kamu juga, memang sudah ditakdirkan kalau dompetku hilang ni malam mau gimana lagi. Pun juga rasa perasaan siti terhadapku atas kebersalahannya tak hilang dari dirinya, walaupun secara lisan ia tak khawatir tapi dari mimik mukanya aku bisa katakan lain. Hingga ketidak tenangan siti, ku melihat dari matanya mulai mengaca ... aku berusaha menenangkan dirinya, pun ia menawarkan besok akan menemani ku untuk mengurusi semuanya. Aku sich maunya ia, tapi besok itu ia akan ikut baret merah, kasihan hanya karena ku, baret merahnya pun terganggu. Hingga berbalasan perasaan dengan tak sengaja salah seorang menghampiri kami berdua. “Mas taufiq yach”, ungkap bapak tersebut yang berpostur cukup besar dengan berpakaian warna gelap. “ia pak” jawabku dengan pikiran agak rada-rada takut. “mas kehilangan dompet”, setelah ku mendengan kata-kata tersebut. Angin keceriaan mulai nampak dari aku dan siti, entah malaikat mana mana yang menolong, langsung bapak itu menceritakan semuanya. Aku pun dengan rasa bangga dan terima kasih ku ucapkan pada bapak itu. Sempat mendengan ucapan bapak itu, katanya bapak mengenal dari dompet ku ada foto aku dengan siti, pun bapak dengan tidak ragunya kalau ini benar-benar dompet mereka (aku).
Hati yang sebelumnya di lingkari dengan rasa gundah mendalam berganti keceriaan, serta rasa kekaguman dari ku aja, kalau masih ada orang yang demikian. Malam pun semakin mesra kami berdua, hingga ku katakan sama siti, ini semuanya sudah diatur, kehilangan ini cuman sebagai perantara aja, kalau kita jalan-jalan malam, walaupun tidak romantis amat justru sebaliknya, guyon ku. Ku bisa katakan ini purwosari mengesankan. Mengesankan bagiku juga baginya .. purwosari sebagai tali ikat kekuatan cinta kita.
Malam ini pun menjadi malam yang sangat mengesankan bagiku, bisa berduaan dengan siti saat pertama kali .... dengan jalan yang cukup mendebarkan. Aku mengaharap malam ini sebagai bukti kekuatan cinta kita. Walau banyak sekali perbedaan diantara kita, terpenting bagaimana perbedaan itu saling melengkapai menjadi sebuah kesamaan yang harmonis ... dengan berbagai kekurangan, bagaimana kekurangan itu menjadi sebuah kelengkapan yang solid ... aku sangat menyukainya .... ia pun demikian.
Salam buat ku terhadapnya ....
Minggu, 25 Juli 2010
Fiq n Siti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar