Jumat, 19 November 2010

Permainan Perasaan

Belum berlalunya malam berganti pagi, sang fajar mulai mempersiapkan diri menampakkan wujudnya. Deras nya aliran sms, saling berganti, bersambung hingga fajar menanti, awal mulai nya permainan sebuah perasaan. Suatu hal yang diluar dugaan pun terjadi, berharap tak selayaknya, tapi hati seakan mau bicara lain. Karakterku tak mau kalah, ia berusaha mempertahankan dari dulu yang ia prinsipi, yakni sebuah ketakutan. Harinya pun tiba, menjadi sebuah prioritas untuk menemuinya, eh berlanjut perjalanan fitnah pun terasa dalam lubuk hatiku. Hari itu merupakan awal kalau hati sementara dipermainkan.
Aku biarkan air tersebut mengalir begitu saja. Ia menyirami tubuhku dengan rasa lembut, penuh perhatian, hingga hati ini pun terasa lain dalam bathinku. Beberapa praduga menjelaskan padaku kalau ia berusaha menjelaskan perasaan dan menunggu respon positif dari perasaanku. Tapi inilah aku, cinta merupakan hal yang sangat sakral bagiku. Sakral yang ku maksud, aku mengharap kalau aku bisa tapi ternyata berbanding terbalik. Masih saja aku bersembunyi dibalik perasaanku. Terkadang aku malu pada diriku. Aku telah membohongi semuanya.
Berlanjut hari,  dalam sebuah pelatihan, hati pun mulai diuji. Ada saat-saat aku merasa cemburu, melihatnya bersama, berdua dengan orang lain, hati terasa tercakar-cakar. Tapi, apa hak ku. Toch secara nyata hal tersebut memang pantas dilakukan nya, karena posisi saat itu merupakan haq baginya. Ku biarkan ini semua berlalu, hingga ku timbulkan praduga berlanjut kalau diantara kita memang tak terjadi sebuah perasaan berlebih melainkan sebuah persahabatan yang layak dirasakan oleh umum nya orang.
Ia tak punya perasaan lebih, ia menganggapku layaknya seperti yang lain, aku saja yang bodoh, mudahnya tertipu oleh permainan perasaan, sebuah permainan yang dari dulu sudah membelenggu pada diriku. Karakter yang sangat kusesalkan dan kupertahankan menjadi sebuah seni dalam hidupku. Aku yakin, suatu saat pasti akan datangnya kepastian hati, entah sekarang, sesaat lagi, atau hari-hari panjang berikutnya. Salam baginya dari hati ini, dalam mimpinya.

Senin, 21 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar