Jumat, 19 November 2010

Haruskah ... Cemburu pada kemesraan malam


Kenapa ia datang lagi. Bukankah semuanya sudah beres, masalah hati seperti apa lagi yang menghinggapiku. Haruskah ini berlarut-larut. Bukankah semuanya sudah jelas, butuh penjelasan seperti apa untuk menyakinkan ini semua.
Sungguh, kan lebih indah bila cinta hadir di tengah-tengah canda tawa, saat berbagi suka dan duka, melempar senyuman saling satu sama lain. Dan sudah tentu ini didapati dalam sebuah perkumpulan entah kecil maupun besar. Seingat kisah cinta ini, hanya sebuah pertemuan dalam kurun waktu 3 hari tak lebih darinya disebuah desa yang cukup adem, sayu, enak. Entah seakan menyulap hari setelahnya. Hati ini diberikan cinta, entah suci atau tidak. Sebuah pertemuan yang sekilas, cukup tak berarti apa-apa baginya bila di bandingkan perjalanan yang selama ini ia lalui. Apa lah aku ini, bisa cinta nya mengalir di muara hatiku. Berbanding dengan teman-teman yang lain, yang sekiranya sudah memberikan arti penting dalam hidupnya. Dalam hatiku sering bertanya-tanya, adakah sepintas cinta menghampirinya selama ia menjalani kehidupan dalam berorganisasi. Siapa aku ini, bukankah waktu yang singkat bila harus mengalahkan sikap teman-teman yang lainnya.
Aku mau cinta di bentuk karena ia memahami diriku, dan diriku memahami dirinya. Sekirannya membutuhkan waktu yang cukup dalam memahami satu sama lain. Terlebih sebuah pengalaman yang terlahir dari canda tawa, suka duka, manis asam hidup, yang aku tahu kalau ia jalaninnya itu tak bersama denganku.
Entah mau dibawa seperti apa rasa ini, tega kah aku bila harus menghalangi canda tawanya dengan teman-temannya. Jujur aku mau seperti teman-temannya, bisa tertawa bersama, menangis bersama dan bila cinta terlahir dari itu semua maka semakin indah cinta yang akan di pahami. Aku tidak tahu harus menghibur seperti apa hati ini,,,, seakan merasa palingkanlah cinta ini kepada yang tepat menerima cinta ini. Terkadang aku tidak bisa memahami tindakannya. Ada sebuah kecemburuan bila ia berbagi canda tawanya dengan teman, sedang aku selama ini tidak seperti teman-temannya. Entah mau butuh penjelasan gimana bila hati ini hanya untuknya. Senangkah dirinya bila bersama denganku, aku tak tahu, alasan kuat seperti apa yang malandasi cintanya padaku. Terkadang aku sering memikirkan, pantas bila cintanya diberikan pada seseorang yang selama ini telah menemaninya dalam berorganisasi, sering memberikannya semangat, cerdas, tampan, dan bisa membimbingnya di kemudian hari. Apakah aku seperti itu, tentulah tidak seperti apa yang di harapkan. Aku memohon pada rasa ini, perjelaskan maksud
kecemburuan ini. Terangkan padanya sebuah kecemburuanku lewat dinginnya malam. Adakah sebuah bahasa kata yang bisa menjelaskan padanya. Mungkinkah aku bisa bertahan dalam proses memahami dirinya. Dan mungkin kejamkah diriku memiliki rasa ini, tak cukupkah air matanya memberikan penjelasan kalau ia benar-benar membenarkan akan lisannya kalau ia mencintai ku. Ataukah ia sudah terjebak dengan keadaan, yang mana keadaan yang harus memaksakan cintanya untuk diberikan padaku. Adakah alasan yang kuat untuk menjelaskan cintanya padaku. Bukankah banyak yang sekiranya prihatin, respon banget pada dirinya. Cukupkah hanya dengan waktu tiga hari ia, dengan mudahnya ia berikan rasa ini.
Berjalan semakin kedepan, aku bingung harus seperti apa harus aku lakukan. Seringkali kebimbangan rasa ini selalu menghinggapi. Haruskah aku diam beberapa hari, menguatkan pada pendirianku untuk menunda rasa ini. Menutup sementara perasaan ini, cukupkah ini menjadi sebuah solusi penyegar hati. Dan apa ini selaras dengan hatinya. Mampukah ia menerimanya. Ia sering bilang, akulah pemberi semangat baginya, benarkah demikian. Bukankah banyak teman-teman yang sering berbagi, dengan melalui pendekatan hati, bukankah keceriaan yang sering timbul ditengah-tengah keramaian (tanpa diriku) bisa menyegarkan hatinya. Aku ngak tahu harus seperti apa kan ku jelaskan maksudku untuk menghargai perasaan ku. Sungguh ia tak bersalah atas penderitaan ku. Seringkali aku sembunyikan kecemburuan ini di balik kata-kata manis. Tindak tanduk yang seakan ingin berbicara kalau kamu tega membuatku seperti ini. Tapi dengan kebodohanku membuat menyiksa diriku,, tapi ke-ego-anku menyangkal, sadarkah ia yang selama ini ia perbuat, masih adakah kejelasan dari hatinya yang ia tak jelaskan pada hati ku.
Dari hati yang mulai cemburu pada kemesraan malam.......

Kamis, 07 Oktober `10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar