Dalam menapaki dunia percintaan sungguh amatlah menyusahkan, bila disadari. Aku yang dahulunya yang dihidupkan dalam sebuah ruang lingkup daerah tertutup, cukup lama aku bertahan enam tahun dalam pondok pesantren. Sebuah lembaga pendidikan yang telah memberikan ku banyak arti, pengalaman yang tak kuasa aku membalasnya. Sering aku melihat di beberapa angkot, bus kota, dua insan yang saling dekat seakan tak mengetahui kalau apa yang mereka perbuatkan adalah dosa. Beberapa perkara aku sering menemukan hal yang sama, terakhir hal yang paling tragis ku melihat didepan mata telanjang, sepasang sopir angkot dengan penumpang yang sungguh amat minim, lantas ada seorang perempuan yang turun dari angkot tersebut, pikirku ia adalah pacarnya, sungguh pertemuan dua barang yang haram pun terjadi, bercumbu didepan mata ku, sungguh amat lah aku merasakan hal sangat jijik.
Berevolusi dari hari ke hari, tak terasa aku pun dah dikira-kira kalau aku adalah seorang yang pendiam, takut, pengecut, boleh dikata sombong, banyak dari pandangan teman-teman terlebih lawan jenis ku, mereka seakan takut, sulit untuk mengepadukan komunikasi. Aku jalanin sebuah jalan hidup dengan membawa sebuah impian yang serasa sulit ku capai. Cukuplah sekarang ini aku menyadari kalau impian merupakan impian penantian, sebuah penantian yang amat sulit perkaranya.
Teringat cerita tiga tahun lalu, aku bukanlah sesosok diri ku semasa SMA, aku yang sejarang ini dihadapkan kondisi akademik yang cukup dewasa. Perkuliahan lah tepatnya. Aku semulanya hanya ingin menenangkan hati yang sudah terbius dengan api cinta yang tidak kesampaian. Malah berbalik permintaan hati yang amat lah serius. Beberapa hari ku jalanin serasa aku berjalan dengan kondisi bukan lah aku yang dahulu. Inilah aku, takdir hidup ku seperti ini, dan aku kan mendewasakan hidup ku ini. Kata cinta yang selalu bermain dari bibir seorang munafik, pengecut, tak ada apa-apanya, bahkan sampai ada yang mengatakan aku ini adalah seorang pembual, dan aku menyadari aku ini memang tidak ada apa-apanya. Jalan cinta yang kupilih dahulu terasa sekarang ini adanya pengujian hati. Kejujuran hati aku katakan kalau aku ini benci padanya, tapi kebencian ku seakan tak masuk akal, aku cinta padanya, tapi kenapa hinggap rasa kebencian itu padaku.
Sebuah kebencian yang lumrah terasa oleh seseorang yang sayang, cinta, kasih, apalagi ucapan kata-kata yang mengilustrasikan perasaan keseriusanku padanya, dan ia pun demikian. Tapi inilah sosok diriku, apa mungkin aku yang bisa dikatakan seorang pencemburu, mudah tersinggung, tapi aku tak mau membohongi diriku. Berbalik dari itu punyakah ia niat mengantungkan rasa ini, kau ikat dengan ucapan manis, entah sampai kapan aku kan seperti ini. Apa hubungan ini kan sampai pada titik yang tak ku kehendaki. Ucapan kata pisah, putus, atau sebagainya yang hanya bisa memberikan kesakitan hidup.
Entah apa yang harus ku perbuat, akankah ku temui langsung dirinya dan katakan padanya secara langsung kalau aku ini lagi di cederai dengan persoalan hati. Akankah harus ku marahi padanyayang sudah membuatku memiliki rasa buruk seperti ini.
Lantas setelah memarahinya, apa masalah hati ini kan usai. Adakah kejaminan puas nya hati ini. Sungguh kebencian yang merasuk dalam tubuhku, apa merupakan ke egoisanku. Pujangga hati ku sungguh amatlah terasa kejam padaku, dengan beraninya ia memberikan pengantungkan rasa ini. Aku ngak mau meluluskan kebencian ini berujung pada kata pisah. Mungkin aku kan memafkan mu dengan memberikan waktulah yang akan bergulir dan ia kan menjawab, sungguh amatlah sakit bila aku yang harus menjawab kapan ini harus berakhir.
Dengan melihat berbagai kondisi yang kujalani sejak beberapa hari ini, serasa ada ketertimpangan rasa dengan pilihan hati ini. Ia menduga, kalau lah tingkah aneh dari ku di karenakan ia merasa aku menilai dirinya pencemburu, ia cemburu melihat dengan bahasa sms aku dengan teman lama ku. Padahal sungguh aku merasakan hal yang berbalik, aku cemburu padanya karena terdesak belum mendewasai dalam memahami posisi nya baik dalam organisasi ataupun pergaulan, yang ku bisa menilainya banyak dari teman-temannya maupun teman-teman ku sering ngobrol berdua membahas suatu tak ku ketahui, apa masalah hati, ke-organisasian atau gimana. Setiap kali aku melihatnya ada rasa kecemburuan lahir dari lubuk hati yang tak jelas. ungkapan hati yang tak menentu, seakan ingin mengatakan kalau cinta ku bakalan meninggalkan ku, entah beralasankan seperti apa, tak ku ketahui maksudnya seperti apa. Teringat pada film “from bandung with love”, sepasang kekasih yang menjalani hubungan nya dengan penuh kecintaan, saling sayang menyayangi, penuh perhatian diantara keduanya. Tiba suatu kejadian yang mengharuskan salah satu dari keduannya (cewek) terperangkap dalam jembatan cinta. Di dunia pekerjaan, saling job, partner lawan jenis dalam suatu kepentingan hingga berlarut dalam nistanya waktu, ia pun bimbang dengan rasa cintanya yang pertama. Hingga dengan tak kuasa ia pun kalah dengan nafsunya. Pacar pertamanya di pertangguhkan, hingga akhir-akhir pertemuannya ia sering berbohong pada cintanya. Semakin lama waktu berjalan, ia semakin larut, bimbang apa yang harus ia lakukan. Inikah cinta, menelaah dengan ragam yang lain pun banyak konflik-konflik hati. Sebuah permainan cinta yang berselubung hawa nafsu, terasa di awal-awal seakan mendapatkan kenikmatan, tapi sejatinya hanyalah bersifat temporal, sesaat.
Aku sudah menjalani hubungan ini dan ku merasa apa yang ku perbuat tak luput permintaan nafsu belaka. Pantaskah aku dikatakan sebagai hamba yang patuh, sebagaimana salah satu tujuan di hadapkan di muka bumi yang penuh kenistaan sebagai khalifah fil ard`, terlebih baground ku semasa pendidikan awal bernuansa religius. Cukup lama aku menjalani dunia ketertutupan, hingga di hadapkan dengan kondisi pendidikan yang memang lumrahnya bebas, tak ada batas antara lawan jenis, hanyalah kesadaran akan yang ku ketahui bisa mentralisir semuanya.
Hal layaknya aku menargetkan sebuah perubahan, sekarang ini aku lagi di uji, apa memang aku serius dengan bulan perubahan. Selaras juga adanya penyiksaan hati dengan kondisi sekarang, aku menargetkan, prilaku ku sebagaimana prilaku aku yang dahulunya, tidak ada pemikiran mendalam tentang dirinya. cukuplah hal-hal yang kemarin, belum lama terlewati, hal-hal yang ku lakukan menjadi penerang penting bagiku. Cukuplah menjadi bahan pertimbangan di hari-hari kemudian ....
Jujur aku kangen padanya, tapi aku tak mau berharap lebih ... entah ia akan punya dwicinta dalam hatinya. Aku yang sangat cinta padanya, biarkan dia memilih ... walaupun aku yang terkorbanin, asalkan ia bahagia, dan tidak tersiksa akan kehadiranku, atau menambah problem pilihan dalam masalahnya.
AKU SIAP MUNDUR
Taufiq ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar