Selasa, 21 Desember 2010

AKU SIAP LEPAS CINTA, SELAMA HARAPANMU BISA TERWUJUD DENGAN YANG LAIN

Ada sisi yang ku cemburui dengan keadaan, kamu senang dengannya, tapi diri ini cemburu dengan kesenangan dirimu, kesenangan itu bukan karena aku. Aku tidak hadir dalam kesenangan itu, tentu harapan boleh lah ada, aku takut, apa yang kamu harapkan, kesenangan yang kamu ingin di aku takkan terwujud … sekarang aja kamu bisa berharap, berangan-angan senang bila dengan diriku … entah disuatu saat, kamu hanya bisa merenungi nasib aja, aku siap kamu tinggalin, asal kamu bisa dapat harapan, angan-angan mu … aku takkan menyakiti mu, aku biarkan semuanya, asal kamu bisa dapat apa yang diharapkan kamu … cuman asal kamu tahu selepas kamu meninggalkan cinta ini, mungkin kamu bisa cari cinta lain, dan kalau itu bisa mewujudkan harapan mu, aku dengan keterpaksaan merelakan, aku siap … tapi cintaku cuman hanya untuk mu, berusaha cinta ini takkan untuk orang lain, cinta ini sudah dari awal aku melangkahkan kepercayaan sama kamu … aku berusaha takkan membuka untuk yang lain. Biarkan diri ini merasa terpendam, tersiksa, karena mungkin sudah kodratku … aku tidak mengapa selagi kamu bisa senang …
Siapa yang meragukan kedekatan kita, teman-teman sekitar kadang berguncing sana sini menyinggung hubungan kita, bahkan ada beberapa diantaranya sempat memergok cinta kita. Hal lain juga, keterbukaan diperlukan, apa guna seorang pendamping, jika pendampingnya lagi bermasalah, dimana rasa prihatinnya. Tapi, sering aku memikir, emang ada hal-hal yang perlu keterbukaan, sebab dengan keterbukaan sekiranya beban masalah menjadi berkurang, fungsi teman bicara segunanya sebagai audience (pendengar), dan akan lebih bagus lagi bila ia bisa solutif, dan kamu berada di posisi ini. Tapi disisi lain, ada titik-titik tertentu tak mesti harus terbuka. Ada sebuah kekhawatiran, bila terbuka akan berdampak yang kurang baik. Selain itu pula, bisa terjadi ketidakterbukaan karena menyadari kalau hal tersebut hal yang belum pantas di katakan, tak logis, dan tak berperasaan, dan aku berada di posisi ini.
Masalah keluarga, akademik, organisasi … perlu lah keterbukaan, sekiranya aku bisa sebagai penampung problemamu. Dengan berbicara seakan-akan masalah mu mulai terasa ringan dari sebelumnya. Tapi, apa yang ku permasalahkan, berbeda. Belum pantas aku mengutarakan yang sejelas mungkin, masih ada kekhawatiran terlebih dengan posisi mu seperti ini. Ada ketertolak-belakangan dalam masalah ini, aku yang seperti ini, dan kamu seperti itu. Terkecuali sekiranya ada hal-hal yang perlu di tegasi dalam masalah hubungan, entah masih nyaman atau tidaknya … masih sayang atau tidaknya antara keduanya, mungkin berlaku lebih dengan yang lain, yang hal itu secara tidak wajar dilakukan bila dalam status pacaran. Dan inilah aku, entah kamu menilainya seperti apa ? itu hakmu. Berhubungan dengan yang lain bisa, selama kamu masih memiliki rasa cinta, tapi ku takuti, dengan keseringan berhubungan dengan yang lain … justru benih-benih cinta bisa tumbuh bergelora dalam keseringan berhubungan … dan jujur diriku tak mengapa, selama kamu bisa mendapatkan apa yang diharapkan dirimu … aku siap jadi korban dalam cinta ini. Aku kan selalu tegar dengan pilihan mu … cuman yang aku katakan terakhir, kamu takkan tergantikan dalam hatiku, walaupun aku sudah tergantikan dengan yang lain di hatimu. Selama harapanmu terwujud, aku siap lepaskan cintaku … dan aku cuman mau katakan, kamu pilihan pertama dan terakhir ku.. .. aku tak pernah melangkah sejauh ini melakukan hubungan, cukup itu yang menjadi penghibur saat aku sendiri dan kamu disana lagi menikmati harapanmu … tak terbebanin, Insya Allah aku akan kuat, seandainya itu terwujud. Jaga cintamu, aku siap di lupakan … aku sayang sama kamu … dan aku tahu, kamu juga sayang aku.
December 21, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar